Renald Hadi Prasetya Tekankan Etika dan Teknik Foto Jurnalistik dalam Pelatihan Generasi Muda LDII

Serang (30/5) – Materi fotografi jurnalistik menjadi salah satu sesi penting dalam Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar yang diselenggarakan oleh DPW LDII Provinsi Banten. Dalam kesempatan tersebut, narasumber Renald Hadi Prasetya memberikan pemahaman mengenai kaidah, etika, serta teknik pengambilan foto yang baik untuk mendukung kualitas pemberitaan.
Renald menjelaskan bahwa foto jurnalistik harus dibuat sesuai fakta di lapangan dan tidak mengandung unsur yang melanggar etika pemberitaan. Ia menekankan fotografer menghindari publikasi foto yang mengandung unsur SARA, menampilkan aurat, maupun adegan yang terlalu sadis, seperti proses penyembelihan hewan kurban secara detail. “Foto jurnalistik harus mampu menyampaikan informasi secara objektif tanpa melanggar norma dan etika yang berlaku di masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Renald menjelaskan bahwa proses penyuntingan foto tetap diperbolehkan dalam batas tertentu. Cropping atau pemotongan gambar dapat dilakukan untuk menghilangkan bagian yang tidak relevan atau mengganggu komposisi foto. Namun, fotografer tidak diperkenankan melakukan manipulasi atau menimpa gambar yang dapat mengubah fakta sebenarnya.
Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya kesiapan seorang fotografer jurnalistik sebelum bertugas. “Persiapan yang matang meliputi datang lebih awal ke lokasi kegiatan, fokus terhadap tugas peliputan, memastikan perlengkapan yang digunakan memadai, mengatur kamera sesuai kebutuhan, berkoordinasi dengan panitia, memahami susunan acara, serta menjalin komunikasi dengan fotografer lainnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pemahaman terhadap etika foto jurnalistik juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Dokumentasi yang bersifat internal organisasi sebaiknya digunakan untuk kebutuhan dokumentasi dan tidak dipublikasikan secara luas. Ia juga memperkenalkan beberapa metode pengambilan gambar yang umum digunakan dalam jurnalistik, seperti entire (keseluruhan objek), detail, framing (bingkai), angle (sudut pengambilan gambar), dan timing (ketepatan waktu). “Dalam mengambil gambar harus betul memahami cara dan metode setting kamera yang sesuai dengan kebutuhan serta menyesuaikan kondisi dan situasi agar hasil gambar benar-benar dapat mendukung berita yang ingin dipublikasikan. Apabila ingin hasil yang maksimal, gunakan kamera yang lebih proper,” tuturnya.
Pada sesi yang sama, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai etika seorang reporter saat melakukan peliputan. Reporter diingatkan untuk mematuhi aturan saat berada di dalam ruangan kegiatan, menggunakan alat perekam secara profesional, sabar menunggu momen yang tepat, serta memastikan setiap informasi yang disampaikan didukung oleh dokumentasi yang memadai.
Melalui materi tersebut, peserta pelatihan diharapkan mampu menghasilkan foto dan berita yang informatif, menarik, serta tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik. Keterampilan ini menjadi bekal penting bagi generasi muda LDII dalam menyebarluaskan informasi positif kepada masyarakat melalui berbagai platform media di era digital.

Previous Post

