Hari Veteran Nasional, LDII Ingatkan Warga untuk Terus Merawat Memori Perjuangan Bangsa

Hari Veteran Nasional, LDII Ingatkan Warga untuk Terus Merawat Memori Perjuangan Bangsa

Jakarta (10/8). Setiap bangsa yang besar dibangun di atas dasar penghormatan terhadap para pejuangnya. Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistiyono menegaskan, makna Hari Veteran Nasional tidak boleh berhenti sekadar seremoni sejarah, melainkan harus menjadi panggilan moral bagi generasi penerus.

Peringatan Hari Veteran Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2014, sekaligus memperingati gencatan senjata pada 10 Agustus 1949 di Surakarta. Hari tersebut, menjadi momentum krusial untuk mengenang jasa dan pengorbanan para Veteran Republik Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Hari Veteran Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan panggilan moral agar bangsa ini tidak mengalami amnesia sejarah dan melupakan mereka yang telah mengorbankan segalanya demi masa depan yang kini kita nikmati,” ujar Singgih, Minggu (9/8/2026).

Ia menambahkan, medan perjuangan setiap generasi selalu berubah. Para veteran terdahulu bertaruh nyawa menghadapi peluru dan meriam. Sementara itu, generasi muda hari ini dihadapkan pada ancaman dan tantangan zaman yang tidak kalah kompleks di era digital.

“Musuh bangsa kini sering kali tidak datang dari luar perbatasan, melainkan tumbuh dari dalam ketika persatuan melemah, integritas luntur, dan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bangsa,” tegas Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro tersebut.

Di era modern, ancaman hadir dalam bentuk disinformasi, polarisasi, radikalisme, korupsi, krisis moral, hingga persaingan global. Di sisi lain, Indonesia diberikan banyak warisan luhur oleh para veteran, yang berupa pengabdian di atas kepentingan pribadi, persatuan dalam keberagaman, ketangguhan, kedisiplinan, dan cinta tanah air. Singgih melihat, nilai-nilai tersebut justru menjadi semakin relevan di zaman modern.

“Nasionalisme pada abad ke-21 tidak lagi dibuktikan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan menghasilkan inovasi, menjaga kejujuran, membangun ekonomi, melestarikan lingkungan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Prestasi adalah bentuk baru dari patriotisme,” ungkapnya.

Bagi DPP LDII, nilai-nilai kebangsaan ini sejalan dengan ajaran Islam. Hal itu menjadi landasan utama pembinaan warga LDII untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang profesional religius dan berakhlakul karimah.

Sebagai wujud penanaman nilai-nilai patriotisme yang berkelanjutan, LDII telah mengimplementasikan berbagai program strategis. Di antaranya adalah Sekolah Virtual Kebangsaan dan Sarasehan Kebangsaan yang secara rutin menghadirkan tokoh pemerintah, TNI, Polri, serta akademisi untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional.

Selain itu, penguatan karakter juga dilakukan melalui majelis taklim, kepanduan, hingga aksi nyata pengabdian masyarakat seperti bakti sosial, penanggulangan bencana, dan pelestarian lingkungan. Program-program ini selaras dengan delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa.

“Melanjutkan perjuangan para veteran pada era modern bukan lagi dengan mengangkat senjata, melainkan dengan membangun karakter, memperkuat persatuan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghadirkan karya terbaik bagi bangsa dan negara,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Singgih berpesan kepada seluruh generasi muda agar tidak menganggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang biasa atau hadiah gratis dari sejarah. Kemerdekaan adalah amanah besar yang ditebus dengan darah dan air mata.

“Penghormatan yang sejati adalah melanjutkan nilai-nilai perjuangan mereka. Jika dahulu mereka berjuang dengan bambu runcing dan senjata, maka generasi muda hari ini harus berjuang dengan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, integritas, inovasi, dan kerja keras,” tuturnya.

Ia juga mengajak kaum muda menjadikan sejarah sebagai kompas moral dalam menatap masa depan. Jika generasi veteran telah memenangkan perang untuk merebut kemerdekaan, generasi muda harus memenangkan perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, intoleransi, dan perpecahan.

“Cara terbaik menghormati para veteran adalah memastikan bahwa cita-cita yang mereka perjuangkan terus hidup dalam setiap karya dan pengabdian kita,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *