Pendalaman Qiroatusab’hah, LDII Banten Kembali Mengumpulkan Para Pengajar Pondok Pesantren

Pendalaman Qiroatusab’hah, LDII Banten Kembali Mengumpulkan Para Pengajar Pondok Pesantren

Serang (28/1) – LDII Banten menggelar kegiatan Qiroatusabhah atau cara baca alquran menurut madzhab tujuh imam qiraat, merupakan disiplin ilmu yang tak terpisahkan dalam studi alquran yang bertempat di gedung LDII Banten, Kramatwatu.

Terlebih, tidak semua orang mengetahui dan mampu membaca sesuai tujuh madzhab qiraat. Karena pentingnya hal itu DPW LDII melalui Biro Pendidikan Keagamaan Dan Dakwah (PKD) provinsi Banten lakukan pendalaman materi Qiroatusab’hah ke para ustadz LDII dan guru Pondok Pesantren naungan LDII Banten.

Penderesan Qiroatusab’hah di pimpin oleh ustadz Choirul Hadi yang juga bagian dari biro PKD DPW LDII Banten, “Ini bukan hanya tentang kemampuan melantunkan ayat, tetapi juga penguasaan ilmu qiraat yang mendalam, meliputi tujuh riwayat bacaan Al-Qur’an yang otentik,” jelas Choirul Hadi.

Acara berlangsung khidmat. Setelah sambutan dari dewan penasehat DPW LDII Banten dilanjutkan penderesan tentang definisi qiraat, ruang lingkup qiraat, para qari’ dan rawi Qiroatusab’hah oleh ustadz Choirul Hadi dan praktik membaca surat dengan versi tujuh imam qiraat sab’ah oleh Choirul Hadi.

Pembukaan acara disampaikan oleh Wanhat LDII Banten, KH. Agung Haryo Ontoseno yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara al-asālah (keotentikan tradisi) dan al-ḥadāthah (modernitas) dalam pengembangan keilmuan Islam. Menurutnya, keduanya tidak saling meniadakan, melainkan harus berinteraksi secara konstruktif demi melahirkan praktik keilmuan yang relevan dengan tantangan zaman.

“Dalam penderesan Qiroatusab’hah beliau mengajak peserta semangat melakukan pendalaman Qiroatusab’hah, seraya berharap forum ini menjadi momentum strategi dalam memperkuat kesinambungan tradisi keilmuan yang otentik dan aplikatif di era modern,” katanya.

Dengan kegiatan ini, Choirul Hadi, Biro PKD DPW LDII Banten berharap guru-guru quran hadits dapat memahami konsep Qiroatusab’hah secara teori dan mampu mempraktikkannya dengan benar sesuai kaidah ilmu Qiroatusab’hah.

“Khususnya mampu membaca surah bacaan sholat dari berbagai versi Tujuh Imam Qira’at yang lebih dikenal dengan Qiroatusab’hah,” ujarnya.

Choirul Hadi menambahkan, demikian penderesan ini, semoga hasil dari kegiatan ini bisa diimbaskan kepada para santriwan dan santriwati di masing-masing pondok pesantren naungan LDII Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *