LDII Perkuat Mutu Pesantren, Literasi Digital, dan Kemandirian Ekonomi Santri

Jakarta (23/10). DPP LDII mendorong penguatan mutu pendidikan pesantren, literasi digital, dan kemandirian ekonomi santri pada Hari Santri Nasional 2026. Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan pesantren perlu menyiapkan santri yang religius, berakhlak, terampil, dan adaptif. Pendidikan pesantren juga perlu menjawab tantangan pemerataan mutu, akreditasi, perkembangan teknologi, serta kebutuhan keterampilan hidup.
Menurut Dody, pendidikan pesantren harus memadukan penguatan ilmu agama dengan pembentukan karakter dan kecakapan praktis. “Pendidikan pesantren perlu membentuk santri yang kuat dalam ilmu agama sekaligus memiliki keterampilan untuk menjalani kehidupan bermasyarakat,” ujar Dody.
Untuk meningkatkan kualitas lulusan, LDII menerapkan pendekatan beyond double track yang memadukan pendidikan formal dan pembinaan pesantren. Pada jenjang setara SMP dan SMA, sejumlah lembaga menggabungkan sekolah umum dengan pendidikan berasrama. LDII juga mengembangkan Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) agar mahasiswa dapat memperdalam ilmu agama di sela perkuliahan.
Pembekalan keterampilan di lingkungan pesantren mencakup pertanian, peternakan terpadu, menjahit, dan pengolahan produk pangan. LDII turut mendorong koordinasi kurikulum, digitalisasi manajemen, pelatihan tenaga pendidik, serta pendampingan pemenuhan instrumen akreditasi. LDII juga merintis kerja sama pendidikan dengan lembaga luar negeri, terutama di Asia Tenggara.
Di bidang literasi digital, LDII mengembangkan gerakan bijak bermedia sosial, internet sehat, pelatihan jurnalistik, dan pembuatan konten kreatif. Program tersebut membekali generasi muda menghadapi hoaks, konten negatif, dan penggunaan gawai berlebihan. “Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang mendidik,” kata Dody.
Penguatan bahasa asing dan teknologi informasi turut menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing lulusan. Melalui berbagai pelatihan, santri diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Kecakapan tersebut menjadi bekal untuk beradaptasi dengan perkembangan masyarakat dan dunia kerja.
Selain pendidikan, LDII mendorong kemandirian ekonomi melalui Usaha Bersama (UB), UMKM, Baitul Maal wa Tamwil (BMT), dan kerja sama perbankan syariah. Pengembangan usaha pesantren diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. LDII juga mendorong digitalisasi transaksi di koperasi dan toko lingkungan pendidikan, termasuk penggunaan pembayaran nontunai untuk membantu orang tua memantau pengeluaran anak selama tinggal di asrama.
LDII menegaskan komitmennya memperkuat pesantren sebagai pusat pendidikan karakter, penguasaan ilmu, literasi digital, dan pemberdayaan ekonomi. Melalui upaya berkelanjutan, LDII berharap pesantren melahirkan generasi profesional religius yang mandiri dan berdaya saing. Santri diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.

Previous Post

