Silaturahim DPW LDII Banten dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pemprov Banten

Serang (5/5) Kabid pemberdayaan masyarakat dan desa pemerintah provinsi Banten menerima silaturahmi dan audiensi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) provinsi Banten sebagai balasan kunjungan kerja sebelumnya pada 1 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di ruang kerja Kabid pemberdayaan lembaga kemasyarakatan tersebut dihadiri Dimo Tono Sumito, beserta Edwin Sumiroza.

LDII Banten memiliki komitmen tinggi merealisasikan program kerjanya terutama yang bersinergi dengan program pemerintah termasuk Dinas Pemberdayaan masyarakat dan desa Prov. Banten yang bertempat di kantor Kabid pemberdayaan lembaga kemasyarakatan.

Dalam pertemuan ini Ketua LDII Banten, Dimo Tono Sumito didampingi Wanhat DPW LDII Banten, Edwin Sumiroza; dihadiri juga ust. Choirul Hadi, Pimpinan Ponpes; Ust. H Brin Hariman, Kepala Sekolah Baitul ulum El musawwa serta anggota Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga.
Diterima Kabid pemberdayaan lembaga kemasyarakatan provinsi Banten, DR.(c).Hj. Kustantina, ST.MT, M.Si, di ruang kerjanya.
Membahas program kerja Dinas pemberdayaan masyarakat dan desa pemerintah Prov. Banten yang relevan dengan Program Kerja LDII Banten diantaranya upaya realisasi TPS 3R sebagai penanganan sampah berbasis kesadaran warga masyarakat di salah satu wilayah di Desa Kramatwatu.
Ketua DPW LDII Banten, Dimo tono sumito, mengatakan audensi kali ini balasan atas kunjungan dari dinas pembedayaan masyarakat dan desa Pemprov Banten ke kantor DPW LDII Banten beberapa waktu lalu.
Ia menyampaikan progam dinas PMD Banten sangat strategis dengan program LDII Banten Dimo menuturkan, “8 Bidang Pengabdian LDII untuk Bangsa sejalan dengan semangat pembangunan daerah untuk memperkuat, mempertajam, dan mensinergikan delapan program prioritas tersebut agar semakin relevan dan berdampak pada masyarakat nyata serta mendukung agenda pembangunan daerah,” papar dia.
Edwin mengatakan di tengah situasi itu, inisiatif warga harus menunjukkan bahwa sampah juga bisa menjadi sumber manfaat ekonomi.
“Awalnya kami belajar mengelola sampah dengan maggot. Lama-lama kami sadar ini bukan cuma soal kebersihan, tapi juga bisa jadi sumber penghasilan,” ujar Edwin.
Selain dapat menyelesaikan issue lingkungan, program ini berpotensi besar membuat sirkular ekonomi dimana sampah dimanfaatkan dan didaur ulang secara ekonomis.
Salah satu multiplier efect dari program ini adalah berkembangnya pertanian warga berbasis halaman sehingga dapat mendorong kesejahteraan warga masyarakat secara lebih mandiri dalam hal pangan.
Kabid pemberdayaan lembaga kemasyarakatan menyambut baik program ini dan akan dilakukan tindak lanjut merealisasikan dengan segera.

Previous Post

